Friday, April 29, 2011

Gambaran Umum Wilayah Pesisir Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia. Secara geografis negara Kepulauan Nusantara ini terletak di sekitar khatulistiwa antara 94°45' BT -141°01'BT dan dari 06°08'LU-11°05'LS. Secara spasial, wilayah teritorial Indonesia membentang dari barat ke timur sepanjang 5.110 km dan dari utara ke selatan 1.888 km.

Wilayah Indonesia terdiri atas lima pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Irian Jaya. Enam puluh lima persen dari seluruh wilayah Indonesia ditutupi oleh laut. Luas total perairan laut Indonesia mencapai 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, dan 2,8 juta km2 perairan nusantara, ditambah dengan luas ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia)sebesar 2,7 juta km2.

Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alamnya, baik sumberdaya yang dapat pulih (seperti perikanan, hutan mangrove, dan terumbu karang) maupun sumberdaya yang tidak dapat pulih (seperti minyak dan gas bumi serta mineral atau bahan tambang lainnya). Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan keanaekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar didunia, karena memiliki ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, dan padang lamun (sea grass) yang sangat luas dan beragam. Potensi lestari sumberdaya perikanan laut sebesar 6,7 juta ton per tahun dan yang telah dimanfaatkan 48 %. Namun demikian dibeberapa kawasan terutama Indonesia barat telah mengalami tangkap lebih (over fishing) (Dahuri, et al., 1996).

Sumberdaya alam khususnya di wilayah pesisir dan lautan memiliki arti setrategis yang besar, karena:

1.Dengan semakin meningkatnya kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk serta semakin menipisnya sumberdaya alam di daratan, maka sumberdaya kelautan akan menjadi tumpuan bagi kesinambungan pembangunan ekonomi nasional dimasa mendatang;

2.Pergeseran konsentrasi kegiatan ekonomi global dari poros Eropa Atlantik menjadi poros Asia Pasifik yang diikuti dengan perdagangan bebas dunia tahun 2020, tentu akan menjadikan kekayaan sumberdaya kelautan Indonesia, khususnya di KTI (Kawasan Timur Indonesia), sebagai aset nasional dengan keunggulan komparatif yang harus dimanfaatkan secara optimal;

3.Dalam menuju era industrialisasi, wilayah pesisir dan lautan menjadi prioritas utama sebagai pusat pengembangan kegiatan industri, pariwisata, agrobisnis, agroindustri, pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Kondisi ini menyebabkan banyak kota-kota yang terletak di wilayah pesisir terus dikembangkan dalam menyambut tatanan ekonomi baru dan kemajuan industrialisasi. Tidak mengherankan jika sekitar 65% penduduk Indonesia bermukim di sekitar wilayah pesisir.

Secara umum karakteristik wilayah pesisir meliputi karakteristik bio-fisik dan karakteristik sosial ekonomi budaya masyarakatnya.

a. Karakteristik Bio-fisik

Wilayah Pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut. Kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi didarat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia didarat seperti pengundulan hutan dan pencemaran.

Bentuk/morfologi wilayah pesisir, seperti pantai terjal atau landai, ditentukan oleh kekerasan (resestivity) batuan, pola morfologi dan tahapan proses tektoniknya. Relief/topografi dasar laut perairan nusantara terdiri dari berbagai tipe mulai dari paparan (shelf) yang dangkal, palung laut, gunung bawah laut, terumbu karang dan sebagainya. Kondisi oseanografi fisik di kawasan pesisir dan lautan ditentukan oleh fenomena pasang surut, arus, gelombang, kondisi suhu, salinitas serta angin. Fenomena-fenomena tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan.

Proses-proses utama yang sering terjadi di wilayah pesisir meliputi: sirkulasi massa air, percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi dan abrasi serta upwelling. Ekosistem alami di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang (coral reefs), hutan mangrove, padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna, delta dan ekosistem pulau kecil. Sedangkan ekosistem buatan dapat berupa tambak, pemukiman, pelabuhan, kawasan industri, pariwisata dan sebagainya.

Potensi sumberdaya pesisir dan lautan Indonesia terdiri dari: (1) sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable resources) seperti perikanan tangkap dan budidaya, ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove dan sebagainya; (2) sumberdaya tidak dapat pulih (non-renewable resources) seperti sumberdaya minyak dan gas bumi serta berbagai jenis mineral; dan (3) jasa lingkungan, seperti pariwisata bahari, industri maritim, jasa angkutan dan sebagainya.

b. Karakteristik Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir secara sosio-kultural merupakan suatu kelompok masyarakat yang akar budayanya pada mulanya dibangun atas paduan antara budaya maritim laut, pantai dan berorientasi pasar. Tradisi ini berkembang menjadi budaya dan sikap hidup yang kosmopolitan, inklusivistik, egaliter, outward looking, dinamis, enterpreneurship dan pluralistik.

Potensi konflik dalam masyarakat pesisir terkait dengan pola kepemilikan dan penguasaan terhadap sumberdaya alam. Sifat dari pola kepemilikan dan penguasaan sumberdaya alam wilayah pesisir itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) tanpa pemilik (open access property); (2) milik masyarakat atau komunal (common property); (3) milik pemerintah (public state property); (4) milik pribadi (quasi private property).

Kondisi sosial ekonomi wilayah pesisir umumnya sangat memprihatinkan yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas dan pendapatan. Ciri umum kondisi sosial ekonomi rumah tangga pesisir adalah: (1) rumah tangga sebagai unit produksi, konsumsi, unit reproduksi dan unit interaksi sosial ekonomi politik; (2) rumah tangga pesisir bertujuan untuk mencukupi kebutuhan anggota keluarganya sehingga tujuan ini merupakan syarat mutlak untuk menentukan keputusan-keputusan ekonomi terutama dalam usaha produksi; (3) dalam keadaan kurang sarana produksi seperti alat tangkap, maka semua anggota keluarga yang sehat harus ikut dalam usaha ekonomi rumah tangga; (4) Karena berada dalam garis kemisikinan, maka rumah tangga pesisir bersifat safety first. Mereka umumnya akan bersifat menunggu dan melihat terhadap introduksi teknologi baru dan pengaruhnya terhadap ekonomi keluarga.
Sifat dan karakteristik masyarakat pesisir juga sangat dipengaruhi oleh jenis kegiatan usaha yang umumnya adalah perikanan. Karena usaha perikanan sangat bergantung kepada musim, harga dan pasar, maka sebagian besar karakter masyarakat pesisir tergantung kepada faktor-faktor tersebut. Lembaga sosial yang terbentuk-pun merupakan perwujudan dari prinsip safety first, seperti saling tolong-menolong, redistribusi hasil, dan sistem patron-client.

Pustaka

Dahuri, dkk. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

No comments:

Post a Comment