Friday, April 29, 2011

Tipologi Ekosistem Wilayah Pesisir

Secara umum, jenis ekosistem di wilayah pesisir ditinjau dari penggenangan air dan jenis komunitas yang menempatinya dapat dikategorikan menjadi dua ekosistem, yaitu ekosistem yang secara permanen atau tergenang air secara berkala dan ekosistem yang tidak pernah tergenang air. Sedangkan jika ditinjau dari proses terbentuknya, ekosistem wilayah pesisir dapat dikelompokkan menjadi ekosistem yang terbentuk secara alami dan ekosistem yang sengaja dibentuk atau ekosistem buatan.
Jenis ekosistem wilayah pesisir tersebut terbentuk melalui proses alami antara lain ekosistem terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, pantai berpasir, pantai berbatu, pulau-pulau kecil dan laut terbuka, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan contoh dari ekosistem yang hampir tidak pernah tergenang air, namun berbentuk secara alami adalah formasi pescaprae dan formasi barringtonia. Wilayah pesisir juga terdapat ekosistem buatan, seperti tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri dan kawasan permukiman (dahuri dkk, 1996).

1. Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan bentuk hutan tropis yang khas, tumbuh sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai. Mangrove tumbuh optimal di wilayah pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur. Hutan mangrove juga merupakan habitat yang memiliki produktivitas tertinggi antara habitat lainnya yang berada di wilayah pesisir Scura, et al., 1992 dalam Ditjen Bangda dan PKSPL, 1998).
Mangrove dalam hidupnya sangat bergantung pada aliran air tawar, serta terhindar dari gelombang yang besar dan pasang surut yang kuat karena hal ini tidak memungkinkan terjadinya sendimen. Sendimen diperlukan oleh mangrove sebagai substrat dan pasokan nutrien bagi tumbuhnya mangrove. Ketergantungan mangrove terhadap aliran air tawar menyebabkan terbatasnya penyebaran mangrove, namun vegetasi mangrove mampu beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya (Nontji, 1987).

2. Padang Lamun

Lamun (Seagrass)adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh bergerombol membentuk rumpun dan sering merupakan komponen utama yang dominan di lingkungan pesisir. Padang lamun dapat berbentuk tumbuhan satu jenis atau lebih, tumbuh bersama-sama sehingga membentuk tumbuhan campuran. Lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk mudah ditembus oleh akar-akar guna menyokong tumbuhan di tempatnya. Lamun dapat memperoleh makanan baik dari air permukaan melalui helaian daun-daunnya, maupun sendimen (substrat) melalui akarnya.

3. Terumbu Karang (Coral Reef)

Terumbu adalah endapan-endapan masif yang penting dari kalsium karbonat yang terutama dihasilkan oleh karang (filum Cnidaria, klas Anthozoa, ordo Madreporaria = Scleractinia) dengan sedikit tumbuhan dari alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1988). Parameter lingkungan yang sangat menentukkan kehidupan terumbu karang menurut Nybakken (1988), antara lain : suhu, kedalaman, cahaya, salinitas, pengendapan sendimen dan gelombang.

4. Pantai Berpasir (Sandy Beach)

Pantai pasir terdiri dari kwarsa dan fledspar, serta pelapukan batu di gunung. Pada daerah tertentu, berasal dari pecahan terumbu karang. Pantai pasir dibatasi hanya di daerah yang mempunyai gerakan air yang kuat mengangkut pertikel-partikel yang halus dan ringan (Dahuri dkk, 1996). Parameter lingkungan yang berpengaruh di pantai pasir adalah pola arus yang mengangkut pasir halus; gelombang yang melepaskan energinya di pantai; serta angin yang menerbangkan pasir halus yang kering dan memindahkan ke tempat lain.

Pustaka

Dahuri, dkk. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah (BANGDA) dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor.

Nybakken, J. 1988. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia. Jakarta.

No comments:

Post a Comment