Friday, April 29, 2011

TUNA DI SAMUDERA PASIFIK

PENGARUH LINGKUNGAN LAUT TERHADAP LARVA

Pengaruh dari laut yang besar dan nyata terhadap larva adalah : (1) syarat dari kondisi yang cocok untuk pemijahan dan kelangsungan hidup berikutnya dari larva, dan (2) arus atau transport dari larva ke daerah-daerah yang kondisinya cukup menguntungkan untuk makanan dan secara fisik lebih baik.

Terdapat dua tipe utama dari aktifitas pemijahan yang ada : (1) aktifitas luas (misalnya, yellowfin, skipjack, bigeye) pada waktu dan daerah yang luas, dan (2) aktifitas terbatas pada daerah dan waktu yang tertentu. Tipe yang terakhir istimewa sekali karena ditunjukkan oleh kebanyakan spesies yang berpindah seperti tuna sirip biru dan tuna sirip biru selatan. Pola evolusioner dalam fisiologi spesies ini mengikuti penetrasi sampai ke dalam suhu laut yang lebih dingin, sehingga untuk pemijahan dalam perairan tropis yang hangat telah ditinggalkan. Spesies dewasa yang terakhir ini melakukan mekanisme yang terperinci yakni bergerak dari jarak yang luas ke daerah yang relatif kecil dimana mereka akan melakukan pemijahan, namun kembali tidak diketahui, meskipun terlihat jejak genetik mereka dalam beberapa bentuk.

Suatu rangkaian pertanyaan yang saling terkait menyinggung perpindahan atau migrasi mereka yang “aktif” atau “terarah” atau saat “pasif” atau perpindahan yang acak dapat dilacak untuk itu. Kombinasi dari situasi “aktif” dan “pasif” (Williams, 1972) adalah, pasti, mungkin diketahui dari perubahan dalam tingkah laku pada umur, tingkat fisiologi, dll. Selanjutnya, lingkungan dapat memicu tanggapan ikan dalam tingkah laku hampir seluruhnya tidak dapat ditentukan (lihat hal. 452), walaupun satu dapat dipertimbangkan bahwa mereka mungkin berhubungan dalam perubahan siklus endokrin (Williams, 1972, 1976). Model seperti Seckel’s (1972) tentang hipotesis arus skipjack tercatat untuk bagian-bagian utama dari perpindahan waktu-tempat, tapi tidak menjelaskan kejadian yang berulang kembali dari spesies dewasa ke daerah-daerah pemijahan dengan rangka waktu yang terbatas.

PERANAN SUHU DALAM AKTIFITAS PEMIJAHAN TUNA

Banyak penulis dari tempat lain mempunyai kesepakatan dalam tinjauan ini bahwa suhu dalam beberapa cara yang saling terkait untuk distribusi spesies dewasa dan untuk pemijahan tuna-tuna dan kelangsungan hidup dari larva. Analisa menyadari larva, bagaimanapun juga, selalu sedikit dan hubungan yang ada terputus ketika dicoba aplikasikan untuk semua daerah yang luas atau waktu yang berkelanjutan (contohnya, IATTC, 1973, 1974, 1975). Klawe et al. (1970) menyatakan terdapat sedikit, jika satu atau beberapa, pengaruh dari suhu permukaan, salinitas permukaan, dan musim terhadap distribusi dan kelimpahan dari kebanyakan larva tuna. Suhu menjadi variabel yang penting untuk Auxis sp., ditunjukkan dari kurva linear dengan suhu optimum mendekati 27ºC. Penulis menemukan tanda peningkatan dalam bagian jaringan deretan yang terdiri dari larva Thunnus albacares dan Euthynnus lineatus di stasiun dimana suhu permukaan perairan melebihi 26 atau 27ºC. Sebagai catatan, suhu di bawah dari 26C atau lebih tinggi diperlukan untuk penetasan larva yellowfin dalam tahanan.

Tidak ada variabel lingkungan lain yang tersimpulkan menunjukkan pengaruh terhadap pemijahan atau kelangsungan hidup larva. Data pada kondisi atau kualitas perairan dalam percobaan dan operasi budidaya dimana garis belakang tuna diberikan berikut ini. Data hidrografi pada kandungan fisik dan kimia dari pengamatan quasi-sinoptik perairan dengan kumpulan larva tidak sukses menghasilkan hubungan yang berarti. Kekurangan dari beberapa hubungan antara zooplankton dan gambar dari larva Auxis sp. telah didokumentasikan oleh Starburg (1960), Nakamura & Matsumoto (1967), dan Klawe et al. (1970). Salinitas juga tidak efektif dalam membuktikan penjelasan variasi dalam penangkapan Auxis, dan mengusulkan bahwa rentang nilai salinitas dari pertemuan perairan tidak penting dalam mempengaruhi distribusi juga.

OSEANOGRAFI DAN BUDIDAYA TUNA

Sejak tahun 1970 di Jepang, telah menyadari upaya untuk budidaya tuan (Ueyanagi, 1987). Rencana terkoordinasi orang Jepang mempunyai dua obyek yang berdasarkan pada dua rancangan penelitian : (1) untuk membangun teknik penangkapan larva dan juvenile yang dihasilkan dari pembuahan telur buatan, dan (2) untuk mengembangkan teknik penangkapan tuna muda yang tertangkap di laut. Rancangan ini beberapa digambarkan secara rinci oleh Ueyanagi (1978 dan referensi didalamnya) dan tanpa nama (1973, 1979b). Hal yang menarik untuk dipersiapkan adalah kondisi lingkungan yang ditemukan sesuai atau tidak sesuai untuk ikan.

Dengan melihat pada rencana pertama (budidaya per se), komentar terbatas untuk aspek dengan implikasi oseanografi-ekologis (untuk diskusi teknis rinci dari penangkapan lihat publikasi asli). Tuna sirip kuning (yellowfin tuna) adalah spesies target untuk percobaan dari tahun 1970-1976 dan penetasan pembuahan telur buatan dan larva bertumbuh sampai panjang 4 cm dalam 28 hari. Kelangsungan hidup maksimum 38 hari, dengan waktu kembali dari tahap larva menjadi juvenile dan panjang 5.1cm dan berat 1.35g. Penetasan sukses mencapai suhu dengan rentang 26-30ºC. Ueyanagi (1978) menyadari bahwa pengaruh kuat yang utama dari kerja ini adalah (1) verifikasi dari identifikasi larva yellowfin tuna yang dibuat untuk maksud lain dan (2) konfirmasi tempat pemijahan yellowfin yang mungkin digambarkan oleh isotherm 26-30ºC dan bahwa 26º mungkin adalah batasan suhu terendah untuk pemijahan. Banyak keberhasilan dengan yellowfin disadari untuk dijadikan penangkapan awal dan pemberian makan larva dengan tuna frigate, A. thazard dan A. rochei, dan bonito, Sarda orientalis. Ueyanagi menekankan tahap pengembangan penting, contohnya 7mm, 10mm. Kematian tertinggi larva tuna alami rupanya terlihat pada waktu ada perubahan dalam pilihan makanan dan densitas yang ada, kesesuaian makanan organisme sejak periode kritis.

Pada rencana penelitian kedua, spesies target adalah tuna sirip biru (bluefin tuna). Bluefin muda sekitar 0.25-2.0 kg, tertangkap dalam rangkaian jarring dan dengan troll, dimana belakangnya umpan yang mengapung (sama dengan yang digunakan untuk yellowtail, Seriola quinqueradiata) di perairan pantai terlindung, sebagian besar di bagian selatan Jepang. Menyadari kematian disebabkan oleh penangkapan, transportasi, dan pemindahan ikan ke dalam pens, dan juga oleh aksi ikan yang kuat pada dinding pens. Hal ini penting, bagaimanapun juga, untuk menyadari penyebab kematian selain mekanisme yang satu ini dapat menolong agar dikembangkan lagi. Kondisi lingkungan yang paling penting mempengaruhi keberadaan bluefin adalah hujan yang besar, dimana dapat cepat menyebabkan salinitas menjadi rendah; polusi dan sendimentasi yang tinggi, juga masukkan dari daratan maupun sungai (tuna yang berenang bebas akan menjauhi atau meninggalkan daerah seperti ini); dan peningkatan intensitas cahaya yang mengikuti jaringan dalam pens. Kekurangan dari penempatan lokasi rearing pens di perairan pantai adalah tidak adanya masukkan makanan alami seperti daerah perlindungan, baik dalam pertukaran massa air, dan menghilangkan bantuan untuk fasilitas.

Setelah menyesuaikan diri terhadap iklim (aklimasi), rata-rata pemberian makanan harian dari bluefin muda sekitar 10% dari berat tubuh selama periode suhu perairan tinggi. Rata-rata menurun cepat dengan penurunan suhu perairan sekitar 3% dari berat tubuh saat musim tengah-dingin. Tuna sirip biru yang bertumbuh dalam pens menunjukkan bahwa mereka dapat bertahan pada musim dingin dengan suhu perairan yang menurun sampai 12ºC tapi, seperti yang dilaporkan oleh Hirota & Masiachi (1976), bertumbuh (dan bertahan) sampai tahun ini adalah normal hanya jika suhu perairan musim dingin adalah 15ºC atau diatasnya. Awal percobaan menunjukkan pertumbuhan cepat dari budidaya bluefin dalam pens, dari 0.25-0.30 kg pada pertengahan bulan Agustus sampai 2.5 ke 3.0 kg pada bulan Desember, meningkat sepuluh kali lipat hanya dalam waktu empat bulan. Setelah musim dingin yang mana pertumbuhan tidak ada, pertumbuhan dimulai kembali pada bulan April sepanjang tahun. Percobaan jangka panjang yang berhasil ini, bluefin menunjukkan pertumbuhan dari 1.14 kg pada bulan Juli-Agustus 1972 sampai 4-5 kg pada bulan Maret 1973; ke 15-17 kg pada bulan Maret 1974; sampai sekitar 30 kg pada bulan Maret 1975; dan mencapai 50 kg di bulan Oktober 1975. Sekarang ini, Anonymous (1979b) melaporkan bahwa Dr. Harada dan grupnya di Kinki Universitas telah menerima keberhasilan pertama dalam pembuahan dan penetasan buatan (Juni 1979) dari telur tuna sirip biru yang memijah alamiah dengan pen-raised fish yang mana pada saat umur 5 tahun beratnya sekitar 100 kg dan panjang mencapai 1.9 m. Suhu waktu itu 22-24ºC dalam air yang teroksigenasi baik pada tangki penetasan; larva diberi makan Chlorella dan bertumbuh 4mm dalam 4 hari.

Terdapat informasi yang berbeda dalam budidaya pen oleh tuna yang lain. Pada dogtooth tuna, Gymnosarda unicolor, pemberian makan dan pertumbuhan normal pada suhu 18ºC dan diatasnya, tetapi pemberian makan berhenti pada suhu 16ºC dan kematian terlihat pada suhu 14 ºC. Di sisi lain, bonito, Sarda orientalis, bertahan pada suhu perairan dimusim dingin serendah 14 ºC dan berikutnya terlihat tidak ada masalah dengan pertumbuhan. Di tahun 1978 Harada dan grupnya dimungkinkan untuk menangkap larva bonito dari pembuahan telur yang dikumpulkan dari ikan yang bertumbuh dalam holding pens.

HUBUNGAN FISIOLOGI DAN TINGKAH LAKU PADA HABITAT TUNA

Hanya dalam beberapa tahun lalu, menjadi mungkin untuk mengkhususkan habitat tuna dari data percobaan, paling tidak membuka perbandingan dari distribusi tuna dari data tangkapan dan variabel lingkungan yang diamati di laut. Banyak dari pekerjaan cobaan ini telah dilakukan di Hawaii, dan membuat dorongan awal oleh A.L. Tester dan kemudian direktur laboratorium Honolulu dari National Marine Fisheries Service. Tahun 1960an memperlihatkan teknik yang sempurna untuk mengendalikan dan menggunakan tuna-tuna kecil pada Service’s Kewalo Research Facility di Honolulu (Nakamura, 1960, 1962, 1964, 1966, 1972; Magnuson, 1965). Banyak studi sensorik dan fisiologi pendengaran, chemoreception, fisiologi umum, dan tingkah laku dilakukan pada tahun 1960an dan awal tahun 1970an (Dizon & Sharp, 1978) telah diarahkan pada pengertian tanggapan untuk alat tangkap ikan dan penyempurnaan teknik memanen. Ini memberikan reaksi untuk lebih mengelabui percobaan dan studi teoritis dalam fisiologi, biokimia, dan hidrodinamik, mulai dari pertengahan 1970an sampai sekarang, dimana ditinjau ulang secara rinci oleh Sharp & Dizon (1978), Magnuson (1978), Steven & Neill (1978), dan Dizon & Brill (1979). Perhatian lebih terbayarkan untuk skipjack daripada spesies lainnya.

Pembelajaran ekologi fisiologis tuna telah diproses sampai titik dimana pola evalusioner mungkin dapat terkait dengan distribusi di lautan. Sharp & Pirages (1978) membandingkan karakteristik morfologi seperti distribusi dari otot merah, perkembangan vaskulatur kutanus, dan perkembangan vaskulatur tengah dan retia yang berasosiasi, bersamaan dengan karakteristik biokimia seperti mobilitas elektroforetik dari protein, dalam beberapa spesies scombroids. Mereka beranggapan karakteristik ini mengindikasikan perintah sementara dalam peristiwa kolonisasi habitat di lautan. Awalnya, Sharp & Francis (1976) menunjukkan bahwa berdasarkan studi energi ekpenditur dan pertumbuhan energik dari stok pemanfaatan yellowfin di daerah tropis bagian selatan Pasifik, perubahan karakteristik morfologis dan fisiologis menganggap tahapan sejarah hidup dan keterkaitannya dalam distribusi lautan. Dua tipe otot (merah dan putih) dan vaskulatur beradaptasi secara khusus dengan alat pernapasan dan syarat energitik dari tuna dengan kebiasaan dan habitat yang berbeda. Secara khusus, bagian dalam dari otot merah ditemukan pada tuna yang besar dimana distribusinya meluas dilautan, dan prosesnya terjauh dalam spesies ini sampai perairan sementara-albacore dan khususnya bluefin dan bluefin selatan. Sharp & Pirages berpendapat bahwa tuna secara alami termasuk ikan daerah pantai tropis (seperti beberapa masih ada) dimana sampai adaptasi biokimia dan morfologis diperpanjang rantangnya, membuat diri mereka kurang mandiri terhadap fluktuasi lingkungan, dan juga mengurangi kompetisi mereka. Kasus yang ekstrim adalah albacore, bluefin, dan bluefin selatan menyebar ke perairan lautan sedang dan lama bermigrasi disana. Yellowfin dan skipjack berada antara tuna iklim sedang dan pantai tropis (misalnya, Euthynnus affinis) sekarang. Yellowfin dan skipjack merupakan bentuk yang mendunia dari perairan hangat sebagai spesies yang sedang. Tuna ini memerlukan tropis asli untuk keberadaan larva mereka pada kondisi yang sangat hangat (lihat hal. 464-473).

Satu dari banyak hal yang menarik dari kenampakan tuna ini adalah meraka tidak dapat langsung dikelaskan sebagai poikiloterm atau homeoterm dan, tidak seperti teleosts lainnya, adalah ikan “thermconserving” (Dizon & Brill, 1979), artinya mereka terdapat suhu otot diatas ambient. Pengamatan secara tabulasi Sharp & Vlymen (1978) oleh berbagai penulis dalam perbedaan antara suhu badan tuna dan suhu ambient dan rentang dari 1º-21ºC. Stevens & Neil (1978) mengulas kembali terperinci mengenai mekanisme thermo-conserving, dimana rata-rata arus berlawanan (pertukaran bahang) dari system vascular ke trunk musculature pada tuna sebenarnya (disebut Thunnini), pertamakali oleh Kishinouye (1923).

Diskusi mengenai dapat atau tidaknya tuna mengatur suhu badan mereka, dengan referensi khusus untuk skipjack (Dizon, Brill & Yuen, 1978; Stevens & Neil, 1978) dan bluefin Atlantik (Carey & Teal, 1969; Carey & Lawson, 1973; Neil & Steven, 1974; Stevens & Neil, 1978). Lebih baru, Dizon & Brill (1979) menampilkan catatan rinci yang baik sekali mengenai thermoregulation dari tuna.

Mereka menyadari bahwa pilihan thermoregulation dari tuna ialah :
A. Tingkah laku thermoregulation diwakili oleh : (i) pemilihan lingkungan (habitat) dan (ii) control dari produksi bahang aktifitas sendiri;
B. Thermoregulation pasif (yang mana stabilnya suhu otot dan mengharuskan tidak ada interfensi central nervous system (CNS)) diwakili oleh : (i) suhu perairan yang terkait dan kecepatan renang-terkait dengan produksi bahang, (ii) kelembapan panas, dan (iii) velositas renang-terkait dengan menghilangnya bahang;
C. Fisiologis thermoregulation (kemampuan dari CNS mengharuskan untuk merubah efektifitas mekanisme thermo-conserving).

Dizon & Brill (1979), berdasarkan analisa mereka dari pekerjaan sebelumnya dan pengamatan percobaan mereka, menyimpulkan bahwa tuna mampu mencapai beberapa derajat pada fisiologis thermoregulation, dalam penambahan tingkah laku dan thermoregulation yang pasif. Mekanisme fisiologis thermoregulation diindikasikan dengan keluarnya suhu otot yang labil dan mandiri secara alami dengan melihat kecepatan renang dan produksi bahang. Dalam penambahan, kecepatang renang yang tinggi memerlukan mekanisme untuk menghilang lebih baik daripada berkonsentrasi pada kebanyakan kubik meningkat dalam produksi bahang. Proses fisiologi dimana dapat menentukkan rata-rata penghilangan bahang per derajat dari perubahan gradient penentuan dalam (i) pola sirkulasi untuk merubah efektifitas dari pertukaran bahang dan (ii) kontribusi relative dari system getar otot mareah dan putih untuk propulsion.

Kebanyakan pengarang, seperti Dizon et al. (1978), mengambil keuntungan dari suhu badan yang hangat dari tuna dan panas inertia yang besar. Percobaan Brill’s (1978) dengan otot putih skipjack menunjukkan tingginya suhu otot terkait dengan meningginya kecepatan renang, akan tetapi dia tidak mengetahui apa yang menyebabkan itu terjadi. Sama halnya, Bone (1978) menganjurkan keuntungan dari suhu otot yang tinggi menipu adanya tenaga yang lebih besar dari pemberian berat otot baik daripada kemungkinan operasi saat suhu otot lebih atau kurang konstan di perairan yang mengabaikan suhu ambient. Stevens & Neill (1978) menunjuk setelah beberapa percobaan, kehangatan (suhu badan yang tinggi) adalah nilai adaptasi, kemajuan cepat dalam pemulihan dan perijinan lebih memberi makan yang teratur. Sekarang ini, Dizon & Brill (1979), Guppy, Hulbert & Hochachka (1979) dan Hulbert, Guppy, Murphy & Hochachka (1979) dan referensi lain telah mengindikasi bahwa getaran otot putih tuna dapat berfungsi sebagai kecepatan hanya diatas rata-rata dasar. Karena banyak masukkan darah di otot putih saat pertukaran bahang, secara aerobic petransferan bahang tidak menahan dan terpisah di insang dan kulit pada kebiasaan teleost biasa.

Neill, Chang & Dizon (1976) memikirkan nilai dari panas inertia dapat menipu dalam pembuatan tuna menjadi relative mandiri dari perubahan suhu perairan yang memutar keitka berpindah antara lapisan permukaan tercampur dan termoklin. Graham & Diener (1978) menyetujui, menempatkan pengamatan pada skipjack dan Euthynnus. Skipjack merupakan spesies lautan dan dapat melakukan penetrasi ke suhu perairan yang lebih dingin di daerah termoklin sampai kedalaman 200 m (Gambar 15) pada dasar yang biasa sampai lebih ke daerah pantai Euthynnus spp. Selama mencari makan dan melarikan diri dari predator-predator. Pertukaran bahang yang besar dan lebih efisien pada skipjack dapat pergi lebih dalam dan menetap disana lebih lama, karena mengurangi kehilangan bahang dan panas inertia yang besar mencegah efek balik dari perubahan yang cepat pada suhu ambient didaerah termoklin. Suhu inertia dapat mendeteksi perbolehan dan mempertinggi gradient suhu yang payah di laut (Neill et al. 1976). Suhu inti berubah lambat, jadi perbedaan antara suhu inti dan ambient dapat meningkat ke titik dimana mereka dapat dideteksi oleh ikan. Seperti suatu mekanisme dapat dijelaskan beberapa pengamatan yang terkait antara distribusi tuna dan gradient suhu horizontal yang payah. Anggapan sama untuk gradient lautan lepas : 0.0001º to 0.001ºC/m (Stevens & Neill, 1978).

Kedalaman renang dari tuna skipjack dekat Hawaii yang ditandai dengan sonic tag : setelah Dizon, Brill & Yuen, 1978

Efek dari variasi penting pada kandungan laut (suhu, salinitas, dan oksigen terlarut) dapat dideterminasi secara percobaan, terutama untuk skipjack kecil, yellowfin, dan kawakawa (Euthynnus affinis). Dizon, Neill & Magnuson (1977) mendapatkannya, untuk skipjack (30-60 cm) dan kawakawa (44-50 cm), mengenai hal batas kematian terendah dan tertinggi suhu adalah 15 dan 33ºC. Semua ikan berhenti diberi makan pada suhu 1 sampai 2º dari batas kematian. Pekerjaan yang sama dari Stevens & Fry (1971), menunjukkan tidak ada peningkatan dalam kecepatan renang spesies ini dengan meningkatnya suhu ambient. Dizon et al. (1978), menyatakan rangkaian ektensif dari percobaan skipjack, dicatat kecepatan renang tinggi menjadi rendah pada suhu yang tinggi. Respon tingkah laku juga dicatat untuk skipjack ketika tangki air didinginkan mencapi 20ºC; ikan mulai menunjukkan reaksi stres atau tidak memasuki air yang dingin. Pekerjaan ini dilakukan oleh Dizon et al. menyokong hasil dari pengamatan lapangan pada skipjack yang dipasang jalur tag dengan penulis lain yang sama dan Yuen (1970).

Dizon (1977) menunjukkan percobaan skipjack dan yellowfin muda tidak memperlihatkan respon untuk merubah salinitas antara 34 dan 29‰. Berikutnya, perubahan salinitas yang relatif kecil yang terpusat di lautan oleh mereka atau spesies lain yang tidak seperti mengatur tingkah laku atau habitat mereka. Di sisi lain, respon tingkah laku terhadap tingkat oksigen yang rendah sangat dramatis pada percobaan skipjack kecil (Dizon, 1977; Gooding & Neill, dalam persiapan). Suatu pengurangan tingkat saturasi oksigen sampai 2.8 ml/l menghasilkan tidak adanya perubahan dalam kecepatan renang atau waktu bertahan hidup. Dibawah tingkat kecepatan renang dan peningkatan kematian yang cepat sukses pada konsentrasi oksigen terendah. Hanya tiga dari delapan skipjack bertahan pada 1.8 ml/l, meskipun untuk waktu yang singkat. Peningkatan kecepatan renang terlihat tidak meningkat dalam ram jet ventilation, dan kemungkinan lain respon melarikan diri ke habitat yang tidak disukai. Percobaan lain mengindikasikan tingkat oksigen serendah 1.4 ml/l dapat ditolerasi oleh yellowfin tanpa ada tanda stress (Dizon,1977), dan untuk kawakawa hanya waktu yang singkat ketika mencari makan. Telah didiskusikan pada halaman 481-487, penyimpulan para penulis yang menggambarkan hasil dari percobaan ini pada tingkatan suhu yang berbeda, salinitas dan oksigen terlarut, mengenai hal daerah dan kedalaman berikutnya dari habitat yang sesuai untuk tuna didaerah Pasifik.
Neill et al. (1978) menunjukkan pengamatan pada captive skipjack dimana suhu inertia sendiri terhadap berat ikan, jadi skipjack besar dapat lebih panas di perairan yang hangat jika mereka aktif seperti skipjack kecil. Hal ini harus ditekankan, bagaimanapun juga, bahwa nilai dari suhu tubuh yang bekerja untuk kedepannya dalam aktifitas yang terbatas pada skipjack di suhu air 30ºC dan diamati suhu tubuh yang keluar sebenarnya menurun atau kembali konstan sekalipun produksi panas meningkat. Dengan menganggap bahwa dari pengamatan suhu otot tertinggi (35ºC) merupakan batas tertinggi ikan dapat hidup, Neill et al. (1976) menggunakan data mereka untuk memperkirakan batas teratas dari suhu lingkungan pada tingkat aktifitas normal. Contohnya tersedia pada halaman 482-485. Kitchen, Neill, Dizon & Magnuson (1978) beranggapan pembatas energik sangat bergantung dari berat tubuh pada skipjack dan yellowfin. Pertumbuhan ikan paling kurang dari 7 sampai 10 kg terlihat terbatas dengan ketersediaan makanan oleh kemampuan mereka bertumbuh lebih dari 7 samapi 10 kg adalah mungkin dibatasi oleh kemampuan mereka mengkonsumsi dan memproses makanan yang ada. Resiko dari pemanasan berlebihan inti jaringan diamati berat maksimum 22 samapi 25 kg. Untuk alasan yang bermacam-macam, pengarang sedikit yakin dalam menjelaskan hebatnya berat maksimum dari yellowfin (sekitar 182 kg) dengan cara yang sama.

Sharp & Dizon (1978) menekankan hasil simpangan tuna dari aturan pernapasan dan biokimia teleosts. Pertama, hasil adaptasi tuna ini pada kecepatan tinggi, berlanjut pada kebiasaan renang (Magnuson, 1970, 1973, 1978) diperlukan dengan ketiadaan, atau pengurangan dalam, gelembung renang (paling kurang contohnya kurang dari 60 kg) dan hasil tarik, sebaik keperluan untuk lembaran berikutnya dari isi yang besar dari air disekitar insang. Magnuson (1978) mengindikasikan rasa evolusioner untuk perubahan yang mengambil tempat untuk meningkatkan mobilitas secara vertical, khususnya dekat permukaan laut, dimana penting untuk penangkapan makanan dan menjauh dari predator. Hipotesis baru lanjutan oleh Magnuson mengenai buyansi negative (disebabkan oleh kebutuhan renang yang berkelanjutan) membuat mereka dapat meluncur dan peluncuran gelombang dalam dekat permukaan termoklin. Dibawah kondisi seperti ini, gerakan horizontal di laut dapat mendekati tidak adanya upaya dibawah lingkungan yang ada. Pada waktu ini, bagaimanapun juga, terdapat sedikit bukti dalam mendukung ide ini. Kedua, tercatat adaptasi tuna untuk bulk of caloric expenditure, dan karena tingginya syarat makanan harian mereka.

Pustaka

TUNAS AND THEIR ENVIRONMENT IN THE PACIFIC OCSAN: A REVIEW
PAUL N. SUND ET AL.
Oceanography. Mar. Biol. Ann. Rev., 198 1,19,443-5 12
Margaret Barnes, Ed.
Aberdeen University Press

No comments:

Post a Comment